Anak Laki-Laki dan Pohon Apel

Januari 3, 2010 at 10:53 am 1 komentar

pohon apel

pohon apel

Teman-teman… ada sebuah cerita tentang seorang anak laki-laki dan pohon apel, ada pelajaran yang bisa kita petik dari cerita ini.

Alkisah, terdapat sebuah pohon apel yg sangat besar. Seorang anak laki-laki senang sekali mengunjungi pohon tersebut dan bermain di sekelilingnya setiap hari. Iasuka memanjat pohon tersebut, hingga ke puncaknya, memakan apel-apel, tidur siang di bawah bayangan pohon apel tersebut. Ia suka pohon tersebut dan pohon apel itu pun suka bermain dengannya. Waktu terus berjalan, anak laki-laki itu pun tumbuh dewasa dan ia tidak lagi bermain disekeliling pohon itu seperti yang ia lakukan setiap harinya.

Pada suatu hari, anak laki-laki itu datang menemui pohon apel dan ia terlihat sedang bersedih.

“Aku menginginkan mainan.Dan aku butuh uang untuk membelinya.” “Maaf, tapi akutidak mempunyai uang…. Tetapi engkau dapat memetik semua apelku dan menjualnya. Maka, kamu akan mendapatkan uang untuk membeli mainan.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia pun mengambil semua apel dari sang pohon dan pergi dengan hati riang. Anak laki-laki itu tidak pernah muncul lagi setelah ia memetik semua buah apel. Sang pohon apel tersebut sangat sedih.

Pada suatu hari, anak lelaki yang telah tumbuh menjadi lelaki dewasa itu kembali dansang pohon sangat senang. “Kemari, dan bermainlah denganku.” Pinta sang pohon.

“Aku tidak punya waktu untuk bermain. Aku harus bekerja untuk menghidupi keluar- gaku. Kami membutuhkan sebuah rumah sebagai tempat berlindung. Bisakah kamumembantuku?”

“Maaf, tetapi aku tidak mempunyai sebuah rumah pun.Akan tetapi,kamu dapat memotong cabang-cabangku yang dapat kamu gunakan untuk membangunrumahmu.”

Kemudian lelaki itu pun memotong semua cabang-cabang pohon apel tersebut dan pergi dengan hati senang. Sang Pohon apel merasa senang melihat lelaki tersebut bahagia, akan tetapi lelaki itu tidak pernah kembali lagi sejak saat itu. Sang pohon kembali merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu hari di musim panas, lelaki itu kembali dan sang pohon merasa gembira.

“Kemari, dan bermainlah denganku.” Ucap sang pohon.

“Aku semakin tua. Aku ingin berlayar untuk menenangkan diriku. Dapatkan kamu memberikanku sebuah perahu?”kata lelaki itu.

“Gunakan batangku untuk membangun / membuat perahumu. Kamudapat berlayar jauh dan bahagia.”

Kemudian lelaki itu pun memotong batang pohon apel tersebut untuk dijadikan sebuah perahu. Ia pun pergi berlayar dan tidak pernahmuncul dalam waktu yang lama.

Setelah bertahun-tahun berlalu, akhirnya lelaki itu kembali. “Maaf anakku, tetapi aku tidak mempunyai apa-apa lagi untuk diberikan kepadamu.Tidak ada lagi apel untukmu…” tutur sang pohon.

“Tidak apa-apa, aku sudah tidak punya gigi lagi untuk menggigit.” Jawab lelaki tersebut.

“Tidak ada lagi batang untuk kamu panjat.”

“Aku sudah cukup tua untuk melakukan hal tersebut.” Ucap lelaki itu.

“Sungguh, aku tidak dapat memberikanmu apa-apa lagi… yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sekarat ini.” Sang pohon berucap dengan air mata yang mengalir.

“Aku tidak butuh apa-apa lagi sekarang, yang kubutuhkan hanyalah sebuah tempat untuk istirahat. Setelah beberapa tahun ini, aku sangat lelah.” Jawab lelaki itu.

“Baguslah…. Akar pohon yang tua ini adalah tempat yang terbaik untuk bersandar dan istirahat. Kemarilah, duduklah bersamaku dan istirahatlah.”

Lelaki itu pun duduk, sang pohon merasa bahagia dan tersenyum dengan air mata yang mengalir.

Ini adalah sebuah cerita tentang semua orang. Sang pohon seperti orangtua kita. Ketika kita kecil, kita suka dan senang bermain dengan ibu dan ayah kita. Ketika kita tumbuh dewasa, kita meninggalkan mereka…. Menemui mereka hanya ketika kita butuh sesuatu atau ketika kita dalam kesulitan. Tidak peduli apa pun yang terjadi, Orangtua akan selalu ada dan memberikan semua yang mereka punya hanya untuk membuatmu bahagia.

Mungkin, kamu berpikir bahwa anak laki-laki itu telah berlaku kejam kepada sang pohon, akan tetapi…. Begitulah kita semua memperlakukan orangtua kita.Kita mengira mereka diwarisi kepada kita, kita tidak menghargai semua yang telah dilakukan oleh mereka untuk kita, sampai akhirnya….. semua itu terlambat.

Mari teman-teman kita sayangi dan hormati orang tua kita, karena ridho Alloh berada pada ridho orang tua kita. Dan jangan lupa mendoakan orang tua kita ya……

Dikutip dari Jurnal Muslim Kecil vol 4/1

Entry filed under: Hikmah. Tags: , , .

Kisah Karun

1 Komentar Add your own

  • 1. rumahniefha  |  November 18, 2011 pukul 6:45 am

    copas gambarnya ya🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Asmaul Husna

Kalender

Laman

Klik tertinggi

  • Tak ada

Pengunjung

  • 17,970 orang

%d blogger menyukai ini: